Archive for ke-NU-an dan Ke-ASWAJA-an

Pembekalan Intelektualitas IPNU IPPNU era modern

IPNU dan IPPNU merupakan suatu organisasi lokal atau kedaerahan yang menyebar luas sampai seluruh pelosok nusantara atau Indonesia. Berdirinya organisasi ini bisa dibilang tidaklah muda yaitu sudah 60 tahun yang lalu bagi IPNU dan 59 tahun yang lalu bagi IPPNU. Tidak hanya khidmadnya di dalam hal keagamaan tetapi IPNU IPPNU juga berpartisipasi dalam eksistensi bangsa.

Berbagai kemajuan zaman tentu menuntut suatu perlakuan baru atas cara dan langkah yang akan ditempuh dalam menjalani kehidupan di masa sekarang. Seperti halnya pelajar masa kini yang tentu memiliki karakter dan tantangan yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Misalkan saja di era sekarang yang serba mengalami digitalisasi, merupakan sebuah dunia yang mempersempit jarak dan waktu. Generasi muda dalam hal ini pelajar terhanyut dalam lautan dunia maya. Sudah menjadi pemandangan biasa, bahwa anak muda sekarang lebih suka menggunakan sosial media seperti facebook, twitter, wechat, dan lainnya dibanding dengan berkumpul langsung untuk melakukan suatu proses sosial secara nyata. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa era sekarang adalah seperti itu, tak mungkin dibendung, tapi lebih dalam taraf bagaimana mengelola potensi tersebut.

Peran sebuah organisasi yang riil secara sosial memang dalam keadaan menurun. Media digital telah menjadi salah satu kekuatan besar dalam membangun gerakan maupun mempengaruhi publik terhadap suatu gagasan. Hal ini terlihat dari beberapa kasus yang berawal dari ide melalui internet seperti Kasus Koin Prita, #SaveKPK dan lain-lain lebih menggunakan media sosial online, sebagai suatu cara untuk menggerakkan banyak orang.

Di sinilah awal dari bagaimana potensi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam rangka me-revitalisasi-kan kembali peranan generasi muda khususnya pelajar NU. Dalam kerangka memberikan kesadaran tentang bagaimana untuk merencanakan masa depan dirinya sekaligus mengembangkan pemikiran dan idenya dalam proses peranannya sebagai elemen masyarakat.

 Salah satu organisasi yang berada di ranah pemberdayaan generasi muda ini yaitu IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama). Organisasi yang fokus dalam upaya untuk membina pelajar, santri dan mahasiswa yang notebene adalah generasi muda NU.

Generasi muda yang memiliki kapasitas intelektualitas yang dari proses mengenyam pendidikan tentu bermuara pada suatu upaya taktis untuk menghasilkan calon-calon pemimpin masa depan.

IPNU-IPPNU yang merupakan organisasi yang bersifat “mengurus” pelajar, aspek pengkaderan sesuai dengan khittah (visi dan misi) dan kultur keaswajaan yang meliputi bagaimana kader-kader yang dihasilkan memiliki paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah yang mencakup aspek aqidah, syariah dan akhlak.

Tuntutan dari perubahan yang cepat selalu menimbulkan suatu paradigma yang berbeda di kalangan kaum muda NU. Sikap moderat yang menjadi patokan menjadi tumbuan dalam menghadapi perubahan dunyawiyah.

Estafet organisasi sebagai salah satu tumpuan melakukan proses pendewasaan baik secara mental maupun sosial melalui peranan generasi muda di IPNU-IPPNU.

Peranan generasi muda yang kini mulai dilirik menjadi sinyal positif atas berlakunya suatu hukum organisasi sebagai suatu pemegang peranan penting. Hal yang penting ketika melihat peranan kader-kader IPNU-IPPNU di kancah nasional. Melalui berbagai bidang yang menjadi bakat dan minatnya menjadikan pemberdayaan secara menyeluruh menjadi tumpuan bagi peranan organisasi dalam melihat peluang ini.

Bidang olahraga, ketrampilan, jurnalistik, kewirausahaan maupun yang berhubungan dengan teknologi menjadi bidang-bidang yang perlu dikembangkan agar nantinya penyaluran kader secara maksimal sesuai dengan minatnya dapat dicapai.

Rencana strategis dalam mencapai suatu tujuan awal harus diarahkan dengan jelas. Dan nantinya gerakan pengkaderan dan pemberdayaan generasi muda IPNU-IPPNU dapat terwujud. Akar dari permasalahan yang muncul memang membutuhkan suatu pola analisis secara komprehensif. Penggunaan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) adalah suatu pola analisis yang cukup memadai dan efektif untuk meneliti suatu permasalahan dan mengambil langkah terbaik dalam perencanaan selanjutnya.

Dengan melihat indeks persebaran penduduk dalam kerangka umur, menunjukkan negara ini mendapatkan suatu bonus demografi yang berhubungan dengan jumlah generasi muda. Hal ini menjadi titik tolak dari kebangkitan peran generasi muda.

Dan tentunya organisasi IPNU-IPPNU dapat berperan dalam melakukan hal ini. Peluang yang sangat banyak dalam menggairahkan kembali semangat identitas ke-IPNU-IPPNU-an. Walaupun memang secara aspek sosial pasti terdapat suatu kendala-kendala yang perlu penanganan khusus.

Garis haluan IPNU-IPPNU yang menjadi “anak” dari Nahdlatul Ulama merupakan faktor yang harus mulai dikembalikan lagi. Di samping tetap memperluas cakupan pengkaderan.

Tindak lanjutnya dapat diberikan dalam melihat peluang akan peranan intelektual muda dalam membangun bangsa melalui pengembangan soft skills dan juga penggemblengan secara organisasi. Daya tarik IPNU-IPPNU yang unik dan khas harus tetap dimunculkan seperti kultur keagamaan ala NU. Para pelajar yang terus mengalami proses belajar baik secara akademik maupun organisatoris yang akan mampu membangun suatu mental sosial secara memadai. Perjuangan segera dimulai. Bergandengan tangan untuk menunjukkan kualitas dari kader muda NU. Hingga akhirnya dapat menjadikan IPNU-IPPNU menjadi organisasi kepelajaran yang dapat menunjukkan kiprah riilnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sumber :1.  artikel mufarrihul hazin

            2.   materi ke-IPNU-an oleh syamsul anam

NAMA            :Ade Kidya Nur Fanani

PESMA           :Bintang Sembilan

Universitas      :UNESA

F/J                   :Ekonomi/P.Ekonomi

PERANAN NAHDLATUL ULAMA’ (NU) DALAM DINAMIKA SEJARAH INDONESIA

karya agung risky

NU PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA

Pada awal pereode berdirinya, NU lebih mengutamakan pembentukan persatuan dikalangan umat Islam untuk melawan colonial belanda. Untuk mempersatukan umat islam, KH. Hasyim As’ary melontarkan ajakan untuk bersatu dan menhajukan prilaku moderat. Hal ini diwujudkan dalam sebuah konfederasi, Majlis Islam A’la Indonesia(MIAI) yang dibentuk pada tahun 1937. Perjuangan NU diarahkan pada dua sasaran, yaitu : Pertama, NU mengarahkan perjuanganya pada upaya memperkuat aqidah dan amal ibadah ala ASWAJA disertai pengembangan persepsi keagamaan, terutama dalam masalah social, pendidikan, dan ekonomi. Kedua; Perjuangan NU diarahkan kepada kolonialisme Belanda dengan pola perjuangan yang bersifat cultural untuk mencapai kemerdekaan. Selain itu, sebagai organisasi social keagamaan NU bersikap tegas terhadap kebijakan colonial Balanda yang merugikan agama dan umat Islam. Misalnya : NU menolak berpartisipasi dalam Milisia (wajib militer), menetang undang-undang perkawinan, masuk dalam lembaga semu Volksraad, dan lain-lain.

NU PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG

Pada masa penjajahan Jepang semua organisasi pergerakan nasional dibekukan dan melarang seluruh aktivitasnya, termasuk NU. Bahkan KH. Hastim Asy’ary (Rois Akbar) dipenjarakan karena menolak penghormatan kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah timur pada waktu-waktu tertentu. Mengantisipasi prilaku Jepang, NU melakukan serangkaian pembembenahan. Untuk urusan ke dalam diserahkan kepada KH. Nahrowi Thohir sedangkan urusan keluar dipercayakan kepada KH. Wahid Hasyim dan KH. Wahab Hasbullah. Program perjuangan diarahkan untuk memenuhi tiga sasaran utama, yaitu : Menyelamatkan aqidah Islam dari faham Sintoisme, terutama ajaran Shikerei yang dipaksakan oleh Jepang. Menanggulangi krisis ekonomi sebagai akibat perang Asia Timur Bekerjasama dengan seluruh komponen Pergerakan Nasional untuk melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan. Setelah itu, Jepang menyadari kesalahanya memperlakukan umat Islam dengan tidak adil. Beberapa organisasi Islam kemudian dicairkan pembekuanya. Untuk menggalang persatuan, pada bulan Oktober 1943 dibentuk federasi antar organisasi Islam yang diberi nama Majlis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI). Pada bulan Agustus 1944 dibentuk Shumubu(Kantor Urusan Agama) untuk tingkat pusat, dan Shumuka untuk tingkat daerah.

NU PADA MASA KEMERDEKAAN

Pada tanggal 7 September 1944 Jepang mengalami kekalahan perang Asia Timur, sehingga pemerintah jepang akan memberikan kemerdekaan bagi Indonesia. Untuk itu dibentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). BPUPKI berangggotakan 62 orang yang diantaranya adalah tokoh NU (KH. Wahid Hasyim dan KH. Masykur).

Materi pokok dalam diskusi-diskusi BPUPKI ialah tentang dasar dan bentuk Negara. Begitu rumitnya pembahasan tentang dasar dan falsafah Negara makadi sepakati dibentuk “Panitia Sembilan”. Dalam panitia kecil ini NU diwakili oleh KH. Wahid Hasyim, hasilnya disepakati pada dasar Negara mengenai “Ketuhanan” ditambah dengan kalimat “Dengan kewajiaban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluknya”. Keputusan ini dikenal dengan “Piagam Jakarta”.

Sehari setelah Indonesia merdeka, Moh Hatta memanggil empat tokoh muslim untuk menanggapi usulan keberatan masyarkat non muslim tentang dimuatnya Piagam Jakarta dalam pembukaan UUD 1945. Demi menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa, KH. Wahid Hasyim mengusulkan agar Piagam Jakarta diganti dengan “Ketuhanan yang Maha Esa”. Kata “Esa” berarti keesaan Tuhan (Tauhid) yang ada hanya dalam agama Islam, dan usul ini diterima.

Pada 16 September 1945 tentara Belanda (NICA) tiba kembali di Indonesia dengan tujuan ingin kembali menguasai Indonesia. Melihat ancaman tersebut, NU segera mengundang para utusan dan pengurus seluruh Jawa dan madura dalam sidang Pleno Pengurus Besar pada 22 Oktober 1945. Pada rapat tersebut dikeluarkan “Resulusi Jihad” yang secara garis besar berisi :

Kemerdekaqan Indonesia wajib dipertahankan

Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah wajib dibela dan diselamatkan.

Musuh RI , terutama Belanda pasti akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.

Umat Islam terutama warga NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawanya yang hendak kembali menjajah Indonesia.

Kewajiban Jihad tersebut adalah suatu jihad yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim (Hukumnya fardlu ‘Ain).

Resulusi Jihad ini benar-benar menjadi inspirasi bagi berkobarnya semangat juang Arek-Arek Surabaya dalamperistiwa 10 November 1945 yang dikenal dengan”Hari Pahlawan”.

NU DALAM MENGISI KEMERDEKAAN

            Setelah Proklamasi kemerdekaan, hamper semua organisasi Islam sepakat menjadikan MASYUMI sebagai partai politik, termasuk NU. Namun pada tahun 1950 NU memutuska untuk keluar dari MASYUMI karena terjadi konflik intern. Pada Muktamar NU ke -19 di Palembang 1952 memutuskan menjadi Partai Politik, dengan demikian NU memasuki  dunia politik secara otonom dan terlubat langsung dalam persoalan-persoalan Negara. Untuk melapangkan jalan di dunia polotik, NU masuk dalam kabinet Ali Sastro Amijoyo, seperti KH. Zainul arifin (wakil perdana mentri), KH.Masykur (menteri Agama), begitu pula dengan susunan kabinet yang lain .Pada tahun 1955 diadakan pemilu yang pertama diIndonesia, NU mampu meraih suara terbanyak ketiga setelah PNI dan PKI. Hal ini tidak lepas dari peran Kyai dan Pesantren sebagai kekuatan pokok NU. Pada pereode 1960-1966 NU tampil menjadi kekuatan yang melawan komunisme, hal ini dilakukan dengan membentuk beberapa organisasi, seperti : Banser (Barisan Ansor Serba Guna), Lesbumi (lembaga Seni Budaya Muslim), Pertanu (Persatuan Petani NU), dan lain-lain. Pada tanggal 5 Oktober 1965 NU menuntut pembubaran PKI.

Masalah Indonesia dan cara islam mengatasinya

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada rekan dan rekanita PK IPNU PKPT IPPNU UNESA seperjuangan, kakak-kakak panitia ARTIKEL CONTEST 2k13, para alumni IPNU-IPPNU yang baru lulus  maupun yang sudah lama lulus dan saudara-saudara Sekalian yang berkesempatan membaca artikel ini,  semoga bermanfaat untuk kita semua dtimthumban semoga Allah melimpahkan berkah, ilmu, dan rizki yang bermanfaat untuk kita semua,  Amin.

“Tahukah kalian Indonesia adalah negara yang berwarna-warni?”

Yang memiliki puluhan ribu pulau, bermacam-macam adat dan suku bangsa, beragam Agama, ribuan budaya yang berbeda di setiap daerah dan itu semua tidak dimiliki oleh negara-negara tetangga kita, Subhanallah . Oleh sebab itulah Indonesia disebut negara multicultural dan Insyaallah akan seperti ini sampai kapanpun dan semoga tidak di rebut oleh aliran-aliran yang tidak mengerti apa-apa tentang indahnya perbedaan,  Amin.

Tetapi di tengah indahnya perbedaan itu ada bayang-bayang hitam yang tidak kita kehendaki, kita pastinya tahu dari media massa seperti: televisi, radio, majalah, surat kabar, koran maupun internet bahwa Negara Indonesia adalah negara nomor 3 terkorupdidunia setelah Negara India. Bukan hanya itu, Kekerasan, Pembunuhan, Asusila dan Bencana alam akibat ulah manusia Seperti: Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Longsor di daerah perbukitan di jawah tengah dan NTT dan yang masih hangat-hangat ini yaitu Banjir di Jakarta yang paling parah dalam tahun terakhir ini. Tetapi Alhamdulillah pemerintahan Gubernur sekarang Jokowi-Widodo tanggap dan sukses mengatasi banjir besar tersebut.

Seperti yang di jelaskan pada paragraf sebelumnya masalah bencana alam, korupsi, kekerasan, pembunuhan, asusila dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan. Dalam artikel ini akan kita kupas cara Nahdlatul ‘Ulama’(NU) memandang, menanggapi, menghadapi, dan mengatasi masalah-masalah tersebut menurut cara yang berlandaskan Ahlussunah Waljama’ahala Nahdliyin  dan HTI (Hizbut tahrir Indonesia) yang berlandaskan paham tegakkan Syariah dan Khilafah yang merupakan cita-cita mereka yang Insyaallah menurut saya pribadi tidak Rasional di dirikan di Indonesia.

Sekilas akan dijelaskan apa itu Hizbut tahrir. Hizbut tahrir adalah Partai Politik Islam dari Mesir yang didirikan oleh Syeh Yusuf bin Ismail dari Mesir yang berpedoman pada Syariah dan Khilafah, Syariah adalah ajaran agama Islam yang bersifat Tekstual dan Konseptual sedangkan Khilafah adalah Sistem Pemerintahan yang pada Syariat Islam. Dan yang saya tahu setelah mengikuti acara” Islamic Inspiraction Training” yang diadakan oleh Mahasiswa HTI Unesa  di gedung P3B Unesa Ketintang Ahad 17 Februari 2013 kemarin yaitu Hizbutahrir telah mengembangkan Organisasinya dari Spanyol sampai ke Indonesia.

Disisi lain NU adalah organisasi sosial Islam yang berlandaskan ajaran islam menurut Faham Ahlussunah wal jamaah dan menganut salah satu madzhab empat, ditengah-tengah kehidupan masyarakat didalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan pendirinya anatar lain : KH. Hasyim As’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Samsuri, KH. Ridwan Abdullah, KH. Mas Alwi Abdul Aziz.

Saya akan menjelaskan secara terpisah cara Kedua Organisasi tersebut dalam memandang, menanggapi, menghadapi, dan mengatasi masalah-masalah Indonesia yang sudah dijelaskan di awal tadi. Saya akan menjelaskan mulai dari HTI dulu.

Memandang;  Hizbut tahrir Indonesia memandang Indonesia adalah negara yang menganut sistem ideologi kufur (Demokrasi) dan sistem itulah yang menyebabkan bencana di Indonesia itu terjadi, mereka mengatakan Demokrasi yang dalam teorinya adalah sistem yang memberikan ruang kepada kehendak rakyat, tapi dalam kenyataanya negara-negara barat tidak pernah membiarkan rakyat di negeri-negeri muslim membawa negaranya ke arah Islam. Mereka selalu berusaha agar sistem yang di terapkan tetaplah sistem Sekuler, meski dibolehkan dalam selubung Islam serta penguasanya tetaplah siapa yang mau kompromi dengan kepentingan barat (Dikutip dari Buletin Dakwah Al-Islam, HTI Edisi 4 Januari 2013)

Menanggapi; mereka menanggapi permasalahan Di Indonesia dengan langsung mengkambing hitamkan para pemirintah mulai dari pemerintah pusat sampai ke pemerintah daerah bahwa apa yang di lakukan pemerintah saat ini adalah memonopoli dan membuat drama untuk mendapatkan jabatan dan kekayaan pribadi, tidak hanya itu mereka menganggap bahwa masalah sosial seperti: pembunuhan, kekerasan, asusila dan lain-lain adalah akibat pemerintah yang membiarkan hal tersebut terjadi karena sibuk berebut kekuasaan.

Menghadapi; menghadapi dalam hal ini adalah “action” mereka bergerak untuk megsukseskan khilafah dengan cara mengjelek-jelekan pemerintah melalui media massa baik media cetak maupun media elektronik bahkan mereka memiliki radio sendiri untuk mengprovokasi. Mereka juga memiliki trik dakwah dengan tanpa metode, jika mereka melihat ada kemungkaran mereka langsung mengatakan pada saat itu juga tanpa memikirkan perasaan orang yang didakwahi tentunya hal tersebut bukan malah menyelesaikan masalah malah akan menimbulkan pertengkaran dan justru mereka bangga dengan hal tersebut karena mereka menganggap itu adalah perbuatan mencegah kemungkaran.

Mengatasi; Dalam mengatasi masalah-masalah yang di sebutkan di awal tersebut HTI menggunakan satu cara yang sangat berbahaya dan mengancam eksistensi dan integritas negara tercinta kita ini yaitu “Khilafah” yang sudah di jelaskan diawal tadi ialah sistem pemerintahan berdasarkan islam.Bisa dibayangkan jika hal itu terjadi akan menyebabkan penolakan besar-besaran, dan kekacauan dimana-mana bahkan pertumpahan darah. Na’udhubillah

Coba kita bandingkan dengan cara yang dilakukan oleh NU dalam memandang, menanggapi, menghadapi, dan mengatasi masalah-masalah Indonesia.

Memandang;  sebaliknya dengan HTI, NU memandang masalah tersebut adalah masalahnya pada akhlaknya, maksudnya Implementasi sistem yang buruk dari suatu sistem yang sudah baik jadi bukan sistemnya atau pemerintahnya yang harus di rubah tetapi akhlaknya serta niat dari para pejabat pemerintahan itulah yang harus diperbaiki. Untuk masalah bencana alam akibat ulah manusiapun sama, bukan dari salah pemerintahnya atau sistem harus diganti tetapi akhlak dari masyarakat yang buruk itulah yang harus diperbaiki.

Menanggapi; NU menaggapi dan menjawab persoalan-persoalan di Indonesia ini bukan dengan cara memperpanas suasana atau memprovokasi pemerintah tetapi disinilah langkah dakwah NU dengan cara membuat banom-banom organisasi NU seperti: IPNU-IPPNU, Gema Saba, Fatayat NU, Sabumi, Garuda Bangsa dan lain-lain. Banom-banom tersebut mendidik masyarakat sebagai kader-kader NU yang berakhlakul karimah dengan berlandaskan Ahlussunah wal jamaah yang nantinya sebagai penerus generasi bangsa yang berakhlak mulia dan memimpin masyarakat sehingga masalah-masalah yang di jelaskan diawal tadi tidak terulang kembali pada generasi berikutnya.

Menghadapi; menghadapi masalah tersebut NU tidak perlu menjelek-jelekan dan memprovokasi tetapi NU menggunakan media diskusi untuk menanggapi hal-hal tersebut. NU mengajak pemerintah untuk berdiskusi dalam forum dan mendiskusikan masalah yang terjadi dan mencari jalan keluar.

Mengatasi; NU dalam menggunakan sebuah cara untuk mengatasi masalah di Indonesia ini dengan cara yang mungkin sudah banyak orang kenal yaitu pondok pesantren, para kyai NU mendirikan pondok pesantren sebagai sarana pendidikan agama dan pendidikan umum untuk remaja-remaja/anak-anak yang belajar mendalami agama yang nantinyaakan menjadipenerusi generasi bangsa yang baik ke depan. Jadi NU menggunakan pendidikan pondok pesantren sebagai tonggak utama terciptanya generasi-generasi yang berakhlakul karimah yang kelak akan memimpin bangsa dan negara ini.

Kesimpulan: setelah membaca artikel ini kita mungkin sudah bisa memilih dan memilah mana yang baik untuk negara dan mana yang mengancam eksistensi negara indonesia. Jadi sebuah masalah itu harus diselesaikan dengan rasional dan benar, jangan mengatasi masalah dengan cara yang lebih bermasalah, “Dapat ikannya tidak keruh air” mungkin itulah istilah yang tepat dari cara mengatasi masalah yang baik. Cukup sekian saudara-saudaraku berbagi pengalaman untuk kalian semoga bermanfaat untuk saudara semua. Ingat kita harus percaya bahwa masih ada mutiara di dalam lumpur, masih ada secercah sinar di tengah kabut di negara tercinta ini.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Sumber: 1.Catatan makesta 2012

2. Majalah Aula NU edisi september 2007

3. Pengalaman Pengenalan HTI di P3B Unesa

4. Tausiyah Saudara Yafie

 

 

Nama : Arafat Khomaeni

Pesma: Wali Songo Angkatan 2012

`