Archive for Ke-IPNU IPPNU-an

Formulasi Gerakan (Sebuah Tawaran)

DSC_1162

Untuk dapat terjun di medan laga (masyarakat), IPNU membutuhkan strategi yang di formulasikan dari kondisi riil pada bidang garapnya, untuk itu penulis memberikan beberapa tawaran sebagai berikut.

Pertama, pembenahan kelembagaan, langkah ini adalah awal yang menetukan sukses tidaknya langkah-langkah yang akan ditempuh ke depan. Sebagai organisasi pengkaderan pelajar, maka sebuah konsekuensi logis kiranya, mengembalikan IPNU pada “belantara”nya (sekolah dan pesantren). Pengkaderan atas remaja-remaja terdidik sedini mungkin, merupakan urgensitas dari keberadaan IPNU. Mengingat kembali pada sejarah, kaum muda terdidik lah yang mampu menggawangi kesadaran rakyat pada unruk membebaskan diri dari cengkraman kolonialisme. Melihat pada realitas kehidupan pelajar sekolahan dewasa ini, IPNU harus mampu hadir dengan nilai tawar yang “menggiurkan”. Artinya dengan segala pengaruh modernisasi, westernisasi, dll, untuk dapat menarik pelajar sekolah dibutuhkan inovasi dalam mengemas program-program IPNU.
Salah satu wujud dari dampak modernisasi, westernisasi, dll, adalah motor club, yang sangat marak di kalangan pelajar, tak terkecuali di Kota Surabaya. Untuk dapat merangkul mereka, tawaran yang dapat tempuh tak lain kiranya masuk, terjun, serta mengenal atau bahkan mendirikan wadah serupa. Sebagai mana jargon kaderisasi “masuk lewat pintu mereka, keluar lewat pintu kita” mengandung arti bahwa proses penyadaran tak lain harus melalui cara terjun dan menyelami kehidupan mereka, sehingga pada akhirnya kita mampu menggiring mereka pada sebuah kesadaran untuh atas tugas dan peranan kaum pelajar.
Namun akan berbanding terbalik, jika kita akan terjun pada Pesantren. Lembaga pendidikan tertua di Indonesia tersebut, sampai detik tulisan ini dibuat, tak dapat dipungkiri pesantren merupakan sumber dimana keilmuan agama dikembangkan. Oleh karenanya jika IPNU hadir dengan kapasitas keilmuan yang rendah, maka dapat diprediksi apa yang akan terjadi. Penanaman serta pengembangan tradisi intelektual lah yang kiranya patut menjadi jawaban atas hal itu. Sebagai organisasi yang berplakat pelajar, IPNU harus mampu mengawinkan keilmuan agama dan juga umum tentunya. Hal ini akan menjadi sebuah magnet tersendiri bagi para santri khususnya, ketika memandang IPNU mampu dijadikan wadah dalam pengembangan keilmuan pada sisi agama dan umum.
Kedua, kembali membumikan tradisi intelektualisme sebagai poros pendidikan dan pengembagan kader. Teminologi “pelajar” kiranya cukup menjadikan IPNU memiliki citra sebagai wadah kaum intelektual berhimpun. Di lain sisi kapasitas intelektual yang memadai pada diri kader kader secara personal maupun kolektif, merupakan “pisau bermata dua”, analogi ini mengandung arti bahwa kapasitas intelektual akan berfungsi sebagai alat penyadaran di satu sisi dan alat pembebasan di sisi lain. Sebagai alat penyadaran, akan melahirkan kesadaran utuh kader akan fungsi keberadaannya di tengah masyarakat. Sebagai alat pembebasan, akan melahirkan kekuatan pada diri kader untuk dapat membebaskan masyarakatnya dari segudang permasalahan yang htengah dihadapi.
Ketiga,merealisasikan pendampingan serta advokasi terhadap kaum pelajar. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa dunia pendidikan di Kota Surabaya dan Indonesia secara umum, masih mengendapkan segudang permasalahan yang tak kunjung terpecahkan secara tuntas. Maka dari itu pola pendampingan akan membuka celah bagi IPNU untuk semakin mengenal permasalah pendidikan yang dihapi oleh kaum pelajar. Sedang advokasi akan menegaskan eksistensi IPNU yang tak dapat terlepas dari permasalah social pendidikan, yangtak jarang membutuhkan langkah-langkah advokasi dalam penyelesaiannya.
Dari sejumput tawaran formulasi di atas, aspek yang tak dapat ternafikan adalah penanaman nilai-nilai Islam Aswaja. Penanaman nilai tersebut merupakan urgensi dalam proses penguatan ideologi serta merupakan upaya membentengi generasi muda dari berbagai dampak negative arus perkembangan zaman yang tak terbendungkan.
Lain daripada itu, aswaja sebagai kebutuhan dasar dari basis ideologis kader IPNU, dalam realita kekinian mengalami kejumudan (stagnasi/kebekuan). Hal tersebut dikarenakan selama ini aswaja hanya dimaknai sebagai doktrin atau sekedar metode. Lebih daripada itu konseptualisasi yang terlampau melangit semakin tidak dapat memposisikan aswaja sebagai motor perubahan sosial. Aswaja yang pada dasarnya sarat akan nilai yang dapat digali dan dikembangkan sesuai kontekstualisasi zaman, juga berpotensi untuk dapat menjadi motor perubahan sosial.
Berangkat dari pembacaan tersebut asawja haruslah dipandang sebagai sebuah kebutuhan, sehingga langkah untuk menata ulang konsep aswaja sehingga dapat lebih membumi dan lebih aplikatif tentunya. Untuk mencapai hal tersebut bukan semudah membalik telapak tangan, dibuthkan waktu yang tidaklah sebentar. Selain dibuthkan pula kajian akademik dan pembacaan terhadap realitas yang senantiasa bergerak seiring arus perkembangan zaman. Dengan demikian aswaja barulah dapat dijadikan landasan ideologis gerakan pelajar yang akan dibawa oleh IPNU.
Dari kesemua pemaparan tersebut, yang meliputi aspek historis hingga pada formulasi gerakan harus lah terintegrasi dalam sebuah ikhtiar nyata dalam membangun IPNU yang lebih visioner dalam membaca tanda-tanda perkembangan zaman ke depan. Penanaman ideologi tetap lah harus ditempatkan sebagai komponen penguat dalam melancarkan gerakan pelajar. Dengan demikian IPNU dapat mengokohkan eksistensinya sebagai garda terdepan perjuangan NU dalam memnyiapkan kader yang ideal, serta sebagai bagian penting dari konstelasi gerakan kaum pelajar untuk membawa perubahan sosial masyarakat pada cita-cita luhur para funding father Indonesia.

Pon.Pes Darul Arqom, 24 Desember 2011
“Sebulir Pasir yang Mengimpikan Perubahan”
Haikal A.Z

*(di tulis untuk Lakut PC. IPNU Kota Surabaya)

Pembekalan Intelektualitas IPNU IPPNU era modern

IPNU dan IPPNU merupakan suatu organisasi lokal atau kedaerahan yang menyebar luas sampai seluruh pelosok nusantara atau Indonesia. Berdirinya organisasi ini bisa dibilang tidaklah muda yaitu sudah 60 tahun yang lalu bagi IPNU dan 59 tahun yang lalu bagi IPPNU. Tidak hanya khidmadnya di dalam hal keagamaan tetapi IPNU IPPNU juga berpartisipasi dalam eksistensi bangsa.

Berbagai kemajuan zaman tentu menuntut suatu perlakuan baru atas cara dan langkah yang akan ditempuh dalam menjalani kehidupan di masa sekarang. Seperti halnya pelajar masa kini yang tentu memiliki karakter dan tantangan yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Misalkan saja di era sekarang yang serba mengalami digitalisasi, merupakan sebuah dunia yang mempersempit jarak dan waktu. Generasi muda dalam hal ini pelajar terhanyut dalam lautan dunia maya. Sudah menjadi pemandangan biasa, bahwa anak muda sekarang lebih suka menggunakan sosial media seperti facebook, twitter, wechat, dan lainnya dibanding dengan berkumpul langsung untuk melakukan suatu proses sosial secara nyata. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa era sekarang adalah seperti itu, tak mungkin dibendung, tapi lebih dalam taraf bagaimana mengelola potensi tersebut.

Peran sebuah organisasi yang riil secara sosial memang dalam keadaan menurun. Media digital telah menjadi salah satu kekuatan besar dalam membangun gerakan maupun mempengaruhi publik terhadap suatu gagasan. Hal ini terlihat dari beberapa kasus yang berawal dari ide melalui internet seperti Kasus Koin Prita, #SaveKPK dan lain-lain lebih menggunakan media sosial online, sebagai suatu cara untuk menggerakkan banyak orang.

Di sinilah awal dari bagaimana potensi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam rangka me-revitalisasi-kan kembali peranan generasi muda khususnya pelajar NU. Dalam kerangka memberikan kesadaran tentang bagaimana untuk merencanakan masa depan dirinya sekaligus mengembangkan pemikiran dan idenya dalam proses peranannya sebagai elemen masyarakat.

 Salah satu organisasi yang berada di ranah pemberdayaan generasi muda ini yaitu IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama). Organisasi yang fokus dalam upaya untuk membina pelajar, santri dan mahasiswa yang notebene adalah generasi muda NU.

Generasi muda yang memiliki kapasitas intelektualitas yang dari proses mengenyam pendidikan tentu bermuara pada suatu upaya taktis untuk menghasilkan calon-calon pemimpin masa depan.

IPNU-IPPNU yang merupakan organisasi yang bersifat “mengurus” pelajar, aspek pengkaderan sesuai dengan khittah (visi dan misi) dan kultur keaswajaan yang meliputi bagaimana kader-kader yang dihasilkan memiliki paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah yang mencakup aspek aqidah, syariah dan akhlak.

Tuntutan dari perubahan yang cepat selalu menimbulkan suatu paradigma yang berbeda di kalangan kaum muda NU. Sikap moderat yang menjadi patokan menjadi tumbuan dalam menghadapi perubahan dunyawiyah.

Estafet organisasi sebagai salah satu tumpuan melakukan proses pendewasaan baik secara mental maupun sosial melalui peranan generasi muda di IPNU-IPPNU.

Peranan generasi muda yang kini mulai dilirik menjadi sinyal positif atas berlakunya suatu hukum organisasi sebagai suatu pemegang peranan penting. Hal yang penting ketika melihat peranan kader-kader IPNU-IPPNU di kancah nasional. Melalui berbagai bidang yang menjadi bakat dan minatnya menjadikan pemberdayaan secara menyeluruh menjadi tumpuan bagi peranan organisasi dalam melihat peluang ini.

Bidang olahraga, ketrampilan, jurnalistik, kewirausahaan maupun yang berhubungan dengan teknologi menjadi bidang-bidang yang perlu dikembangkan agar nantinya penyaluran kader secara maksimal sesuai dengan minatnya dapat dicapai.

Rencana strategis dalam mencapai suatu tujuan awal harus diarahkan dengan jelas. Dan nantinya gerakan pengkaderan dan pemberdayaan generasi muda IPNU-IPPNU dapat terwujud. Akar dari permasalahan yang muncul memang membutuhkan suatu pola analisis secara komprehensif. Penggunaan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) adalah suatu pola analisis yang cukup memadai dan efektif untuk meneliti suatu permasalahan dan mengambil langkah terbaik dalam perencanaan selanjutnya.

Dengan melihat indeks persebaran penduduk dalam kerangka umur, menunjukkan negara ini mendapatkan suatu bonus demografi yang berhubungan dengan jumlah generasi muda. Hal ini menjadi titik tolak dari kebangkitan peran generasi muda.

Dan tentunya organisasi IPNU-IPPNU dapat berperan dalam melakukan hal ini. Peluang yang sangat banyak dalam menggairahkan kembali semangat identitas ke-IPNU-IPPNU-an. Walaupun memang secara aspek sosial pasti terdapat suatu kendala-kendala yang perlu penanganan khusus.

Garis haluan IPNU-IPPNU yang menjadi “anak” dari Nahdlatul Ulama merupakan faktor yang harus mulai dikembalikan lagi. Di samping tetap memperluas cakupan pengkaderan.

Tindak lanjutnya dapat diberikan dalam melihat peluang akan peranan intelektual muda dalam membangun bangsa melalui pengembangan soft skills dan juga penggemblengan secara organisasi. Daya tarik IPNU-IPPNU yang unik dan khas harus tetap dimunculkan seperti kultur keagamaan ala NU. Para pelajar yang terus mengalami proses belajar baik secara akademik maupun organisatoris yang akan mampu membangun suatu mental sosial secara memadai. Perjuangan segera dimulai. Bergandengan tangan untuk menunjukkan kualitas dari kader muda NU. Hingga akhirnya dapat menjadikan IPNU-IPPNU menjadi organisasi kepelajaran yang dapat menunjukkan kiprah riilnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sumber :1.  artikel mufarrihul hazin

            2.   materi ke-IPNU-an oleh syamsul anam

NAMA            :Ade Kidya Nur Fanani

PESMA           :Bintang Sembilan

Universitas      :UNESA

F/J                   :Ekonomi/P.Ekonomi

PERAN DAN FUNGSI IPNU-IPPNU DALAM MEMBANGUN PUTRA DAN PUTRI BANGSA

Karya : Zainullah

IPNU IPPNU merupakan organisasi keterpelajaran yang di bawah naungan Nahdlatul Ulama untuk memerankan kepemimpinan di masa datang dengan semangat dan berjiwa nahdiyin. Organisasi ini berbasis keterpelajaran, kekeluargaan, kemasyarakatan, dan keagamaan. Tingkat kepengurusan meliputi, pimpinan pusat, pimpinan wilayah, pimpinan cabang, pimpinan anak cabang, pimpinan ranting, dan pimpinan komisariat. Meskipun bergerak dalam basis keterpelajaran, akan tetapi tidak banyak yang tahu tentang organisasi IPNU IPPNU, baik di tingkat pimpinan ranting, anak cabang, maupun komisariat. Memang ada beberapa sekolah yang mendirikan komisariat IPNU IPPNU, akan tetapi banyak pula pelajar atau remaja yang masih awam dengan organisasi IPNU IPPNU.

Munculnya organisasi IPNU-IPPNU adalah bermula dari adanya jam’iyah yang bersifat local atau kedaerahan, wadah yang berupa kumpulan pelajar dan pesantren yang kesemuanya dikelola dan diasuh oleh ulama’. Jam’iyah tersebut tumbuh dan berkembang diberbagai daerah hamper diseluruh belahan bumi Indonesia misalnya jam’iyah dzibaan, yasinan dan lain-lain, yang semuanya memiliki jalur tertentu dan satu sama lain tidak berhubungan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan nama yang terjadi didaerah masing-masing, mengingat lahirnya pun atas inisiatif diri-sendiri.

Aspek-aspek yang melatarbelakangi berdirinya IPNU-IPPNU yakni :

  1. Aspek Ideologis

Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama islam dan berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah, sehingga untuk melestarikan faham tersebut perlu disiapkan kader-kader penerus yang nantinya mampu mengkoordinir, mengamalkan, dan mempertahankan faham tersebut dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan beragama.

  1. Aspek Pendidikan

Adanya keinginan untuk menjembatani kesenjangan antara pelajar umum dan pelajar pesantren.

  1. Aspek Sosiologis

Adanya persamaan tujuan, kesadaran, dan keikhlasan akan pentingnya suatu wadah pembinaan bagi generasi penerus para ulama’ dan penerus perjuangan bangsa.

IPNU-IPPNU adalah bagian dari generasi muda Indonesia, yang memiliki tanggungjawab terhadap kelangsungan hidup bangsa dan Negara republik Indonesia dan merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya dan cita-cita perjuangan Nahdlotul Ulama’ serta cita-cita bangsa Indonesia.

Adapun beberapa fungsi IPNU-IPPNU yakni :

  1. Wadah berhimpun putra dan putri Nahdlatul Ulama’ untuk melanjutkan semangat dan nilai-nilai Nahdliyah.
  2. Wadah komunikasi putra dan putri Nahdlatul Ulama’ untuk menggalang ukhuwah islamiyah dan mengembangkan syariat islam.
  3. Wadah kaderisasi putra dan putri Nahdlatul Ulama’ untuk mempersiapkan kader-kader bangsa.
  4. Wadak aktualisasi putra dan putri Nahdlatul Ulama’ dalam pelaksanan dan pengenbangan syariat islam.

IPNU sejak 24 Pebruari 1954 dan IPPNU sejak 2 Maret 1955 memberikan sumbangsih terhadap masyarakat, terutama pada para pelajar.  IPNU dan IPPNU yang kegiatannya bertujuan menciptakan pelajar yang agamis harus selalu aktif dan mencari solusi agar generasi muda dapat antusias mengikuti kegiatan keagamaan. Kegitan keagamaan di sekolah dirasa kurang efektif karena hanya mengajarkan teori saja.Imbasnya masih banyak pelajar yang terlibat tawuran, narkoba, dan kegiatan-kegiatan negatif lainnya. Karena pada dasarnya memang mereka tidak tahu wadah yang benar untuk mengekspresikan jiwa mudanya. Disinilah peran IPNU IPPNU  untuk mewadahi pelajar agar mendapat pengalaman keagamaan yang lebih. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang keagamaan, tentunya IPNU IPPNU tidak hanya mengajak untuk bersholawat atau membaca diba’ saja. Namun, IPNU IPPNU juga mengajarkan bagaimana mengelola organisasi dan mengurusi rumah tangga IPNU IPPNU di tiap wilayah kerjanya masing-masing.

Peran IPNU IPPNU menjadi benteng akidah Ahlussunnah Wal Jama’mah dengan mengajak pelajar melestarikan budaya NU. IPNU IPPNU merupakan kader-kader bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam tanpa kekerasan, karena banyak gerakan-gerakan atau organisasi yang bersifat radikal yang mengatasnamakan Islam dan menjadikan generasi muda sebagai target utama.  Oleh karena itu, perlu perisai untuk  membentengi generasi muda dari ancaman gerakan-gerakan radikalisme dan sebagai penerus perjuangan para ulama’ NU.

Tidak hanya dalam bidang keagaman, IPNU IPPNU mampu memberikan sumbangsih dalam bidang sosial masyarakat. IPNU IPPNU juga berperan dalam salah satu program Badan Narkotika Nasional (BNN)yaitu program diseminasi dan informasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba atau P4GN. Menurut keterangan salah satu pimpinan pusat IPNU, pada tahun 2012 lalu, pihaknya sudah memiliki lebih dari 40 kader anti penyalahgunaan narkoba yang aktif mengampanyekan bahaya narkoba kepada rekan-rekan sebayanya. Peran IPNU dan IPPNU dalam upaya P4GN sangatlah potensial, karena secara kelembagaan, organisasi tersebut berada di bawah NU yang merupakan ormas besar dan tersebar di seluruh nusantara.Sehingga sasaran dari P4GN dapat tersebar luas.  Selain itu, baik IPNU maupun IPPNU merupakan organisasi pengkaderan yang menanamkan jiwa-jiwa kekeluargaan, kemasyarakatan dan kebangsaan yang selaras dengan tujuan program BNN. Semangat mendukung P4GN dilakukan secara nyata oleh IPNU IPPNU, terbukti pada tanggal 24 Maret 2012 IPPNU melakukan Gerakan Laskar 1000 Pelajar Putri yang menolak keras penyalahgunaan narkoba, pornografi, dan kekerasan yang kerap terjadi di kalangan anak muda.

IPNU-IPPNU merupakan organisasi keterpelajaran. Organisasi yang mewadahi para pelajar, santri dan mahasiswa dalam upaya belajar dan mengungkap jati dirinya. Di sana akan diketahui karakter mereka. Karakter seorang pemimpin untuk dirinya sendiri maupun orang disampingnya. IPNU-IPPNU bagaikan sebuah gerbang yang mengantarkan para generasi muda pada miniatur dunia. Oleh karena itu di dalam organisasi ini mereka diberi bekal pendidikan karakter, mereka diajarkan bagaimana caranya berbagi, mengabdi, menggapai cita dan asa. Para kader akan lebih percaya diri untuk menunjukkan eksistensi diri demi menunjukkan pada dunia bahwa mereka bisa. Nahdlatul ‘Ulama memiliki komitmen untuk membentuk watak pelajar dan generasi muda yang berakhlakul karimah. Generasi muda dan pelajar merupakan tulang punggung suatu Negara dan agama. Dengan usia yang masih sangat produktif, diharapkan generasi muda dan pelajar tidak hanya dapat menghasilkan karya-karya yang maha besar tetapi juga memiliki konsistensi di dalam berakhlak. Ilmu tanpa akhlak hanya akan menghasilkan ilmu yang implementasinya tanpa nilai, yang justru nilai maslahat dan manfaatnya sangat kecil dibandingkan dengan ilmu yang implementasinya disertai dengan akhlak dan moral.

IPNU dan IPPNU harus memiliki komitmen yang teguh untuk menjalankan misi tersebut dan harus memiliki konsistensi yang tinggi di dalam mengadakan kegiatan yang tidak hanya menjadi jawaban atas permasalahan masyarakat pada umumnya, tetapi juga mentransfer nilai-nilai etika, moral, dan akhlak. Hal Itu karena pentingnya akhlak dan moral serta telah ditegaskannya misi IPNU dan IPPNU adalah pembinaan akhlak dan moral. Maka dari itu, IPNU dan IPPNU harus berada di garis terdepan di dalam memberikan peran untuk pembinaan akhlak bangsa dengan berbagai kegiatannya yang berkualitas.

Lagi, Tumbuh Tunas Baru

Tunas baru telah tumbuh di musim kering ini. Kering akan khasanah keislaman grossroot. Keislaman dengan mengakomodir local freedem (kebudayaan lokal) tanpa bertentangan dengan syar’i malah mempercepat jalannya dakwah, menumbuhkan gerakan amaliyah fiqhiyah, dan memperkokoh aqidah. Tunas-tunas inilah yang akan menebarkan udara kasih sayang, mempercantik hijaunya kepedulian sosial, menghidupkan kesegaran pandangan akademik keilmuan, tidak lupa berkibarnya media taqwa di tengah-tengah dekontruksi ahlak yang meraja lela.

Baru saja mereka diresmikan untuk tumbuh. Mereka merupakan harapan satu-satunya (tidak ada yang lain) pengganti yang telah gugur karena masa gugur telah tiba. Mereka tumbuh dengan semangat hijaunya tentu sangatlah pantas menggantikan kami yang telah menguning dan harus menjatuhkan diri. Mereka akan berjuang di atas ketinggian kehormatan. Di tengah hembusan angin yang bisa merontokkan. Di tengah padatnya debu-debu yang menyibukkan. Di tengah isu dan huru-hara persaingan. ditengah gersangnya moral. Mereka lah harapan yang menjadikan ketaqwaan sebagi puncak dari belajar mereka dan perjuangan mereka.

Sekali lagi, kami ucapkan “Selamat atas pelantikan pengurus baru IPNU dan IPPNU Unesa”. Untuk pengurus baru: semoga organisasi dapat dijadikan kendaraan berjuang. Baik memperjuangkan panji-panji agama ‘ala Nahdliyah maupun pemerkokoh NKRI sebagai negara final. Organisasi bisa dijadikan sebagai ladang belajar. Baik belajar mencangkul dengat keringat yang membanggakan, belajar menanam bibit-bibit harapan kepada tumbuhnya tunah baru sebagai kelangsungan berikutnya, belajar memupuk kebersamaan sosial, belajar mencegah dari hama yang meracuni pemikiran dan gulma yang menjerak pada kekerdilan berpikir, belajar memanen dengan tidak meletakkan tangan di pinggang.

Hanya ini tulisan satu dari beberapa daun yang telah menguning. Biarkan kami yang telah gugur dari pohon organisasi ini tumbuh lagi seperti daun lidah buaya yang dapat menumbuhkan tunas di tempat yang lain. Kami yang telah gugur ini masih memperhatikan seberapa besar pohon organisasi ini akan semakin tumbuh dan berkembang serta berbuah. Kami yang telah gugur bukan tidak cinta ketika kami tidak berada dalam organisasi. Melainkan kami ingin menjangkau tempat itu sementara tempat kami bertunas yang baru lebih membutuhkan dari pada hanya hadir dan dipuji-puji dengan kuningnya daun kami. Mungkin jika kami tidak sendang sibuk dengan urusan tunas yang lain ini, kami tidak akan berpikir lagi untuk merapatkan baarisan di tengah tunas-tunas muda yang kami banggakan.

Akhir kata, selamat belajar, berjuang, dan bertaqwa.

29 September 2013

Sikapku. Sudah “IPNU” kah?

1352103108

Komitmen, Loyalitas, Cinta

     Tiga kata yang sudah sangat sering diperdengarkan dalam berbagai forum yang mengatas  namakan mereka  IPNU(Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama’). Tiga kata yang sudah tidak asing lagi di telinga para aktivis badan otonom dari organisasi sekelas NU(Nahdlatul  ‘Ulama’) yang bergerak dalam hal keterpelajaran seperti IPNU. Tiga kata yang mungkin tidak ada satupun yang tidak mengerti tentang makna dari kata-kata tersebut. Tiga kata yang selalu terngiang-iang dalam telinga kader-kader IPNU. Bahkan hampir dari semua kegiatan yang mempromosikan dirinya sebagai kegiatan pengkaderan milik IPNU selalu ada imbuhan dari salah satu kata-kata itu, atau mungkin memakai semua kata itu sebagai tema dari kegiatan-kegiatan.

     Ada ribuan kamus yang di susun oleh banyak cendikiawan untuk mendefinisikan tiga kata itu. Tapi menjadi hal yang sangat menggelikan ketika ada yang hanya bisa mengerti arti dari suatu kata namun sama sekali tidak bisa merealisasikkan makna  yang tekandung dalam kata tersebut. Saya melalui artikel ini juga tidak memungkiri bahwa sangat sulit untuk menjadi seorang yang bisa melakukan setiap apa yang dikatakan. Namun melalui artikel ini saya mencoba untuk mengingatkan diri sendiri dan dan para pembaca  untuk senantiasa memaknai kata-kata tersebut dengan sikap yang konkret. Sikap yang diwujudkan dengan bentuk tindakan nyata yang jelas tujuan akhirnya adalah menjadi organisasi ini sebagai wadah dari tempat kita memperjuangkan agama.

     Ada seorang yang penah bilang,“Bertawasul  kepada  IPNU itu juga baik untuk bisa mencapai apa yang di inginkan.” Namun yang menjadi tanda tanya besar adalah

                            “Bagaimana cara kita bertawasul kepada IPNU?”

Kita tidak perlu memikirkan terlalu dalam apa arti dari tawassul itu, karena akan butuh berjuta-juta lembar halaman kamus untuk memaknai kata itu. Namun secara singkat boleh donk saya berpendapat bahwa salah satu wujud tawasul kita terhadap IPNU adalah dengan mengembangkan sikap Komit, Loyal, dan Cinta kita pada IPNU.

    Bukan hanya pertanyaan itu yang perlu di jawab, tapi masih satu pertanyaan besar lagi ketika telah terjawab pertanyaan di atas, yakni

                           “Bagaimana bentuk Komit, Loyal, dan Cinta itu?”

Secara sederhana juga saya akan berpendapat bahwa jawaban dari pertanyaan yang kedua ini adalah cukup dengan menjalankan dengan baik dan benar apa yang menjadi tanggungjawab kita pada organisasi ini. Jawaban ini juga saya lontarkan bukan tanpa sebab yang jelas, karena ada suatu pendapat dari seorang sufi yang menyatakan bahwa ,“ Takdir itu menimbulkan perintah.” Dan suatu organisasi itu dikatakan hidup ketika apa yang ada dalam organisasi tersebut berjalan dengan sebagaimana mestinya, baik, dan benar. Jadi kita baru bisa dikatakan taqwa kalau kita sudah menjalankan apa yang menjadi perintah untuk kita, atau dengan kata lain tawassul kita kepada IPNU merupakan suatu keharusan yang perlu untuk kita laksanakan dengan baik sebagai bentuk pelaksanaan perintah terhadap kita akibat dari takdir yang menjadikan kita seorang kader IPNU.

     Mohon maaf tidak terlalu banyak hal yang dapat yang dapat saya utarakan sebagai penjelas dari bait-bait kalimat saya di atas, karena saya yakin kader IPNU sudah sangat cerdas untuk menafsirkan celoteh saya di atas. Namun saya sekali lagi hanya mencoba untuk mengingatkan diri saya pribadi dan pembaca yang merasa menjadi kader IPNU untuk senantiasa memperbanyak tawassul kita pada IPNU ini sebagai bentuk sikap kita terhadap organisasi ini yang mana Allah telah memberikan kita segalanya melalui IPNU kita ini.

“TETAPLAH TERSENYUM DENGAN BANGGA WAHAI KADER-KADER IPNU”

IPNU IPPNU , GERAKAN PELAJAR BERBASIS AHLUSSUNAH WALJAMAAH

IPNU IPPNU , GERAKAN PELAJAR BERBASIS AHLUSSUNAH WALJAMAAH

Salah Satu badan otonom dari Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki fungsi membantu melaksanakan kebijakan NU pada pelajar baik pelajar putra maupun putri serta santri putra maupun putra yang memiliki nama IPNU IPPNU.

IPNU-IPPNU yang dimaksudkan disini merupakan suatu organisasi pelajar baik putra maupun putri  Nahdlatul Ulama (NU) yang sejak kelahirannya memang disiapkan sebagai wadah kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU) untuk masa ke depannya. Karena itulah agenda kaderisasi dalam organisasi ini menjadi “titik tempur” utama yang benar – benar memperoleh perhatian khusus dari para pemuka – pemuka NU. Oleh karena itu IPNU-IPPNU masa depan harus dapat melahirkan kader-kader  NU yang tidak hanya tangguh secara intelektual dan memiliki keunggulan akhlaq serta terampil dalam berorganisasi, melainkan juga  harus siap bertempur di medan peradaban yang semakin kompleks. Tak hanya itu para kader NU ini juga harus mampu menancapkan bendera Nahdhatul Ulama di bumi yang suci i yang kian lama kehilangan kader muda yang unggul tangguh dan berakhlakul karimah dengan pedoman  paham Ahlussunah waljamaah.. Untuk merealisasikan apa yang telah menjadi visi dan misi dari IPNU maupun IPPNU tentu hal pertama yang bisa dilakukan adalah memperkuat kelembagaan pada organisasi, melihat kondisi yang tak bisa di pungkiri lagi dimana para pemuda semakin mendekati masa-masa transisi  dalam suatu ranah keorganisasian tidak sedikit konsekuensi yang harus dialami.

Penggantian makna dari huruf “P”yaitu dari pemuda menjadi pelajar tidak hanya berhenti dalam kata pelajar melainkan justru menimbulkan pertanyaan besar “ Apa yang akan dilakukan oleh para pelajar-pelajar yang merupakan kader NU selanjutnya di masa yang akan datang?” untuk menjawab pertanyaan itu ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi rujukan dalam bertindak menjadikan kader investasi masa depan diantaranya:

Pertama, Para kader itu harus memiliki iktikad dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan pembenahan-pembenahan dalam segi organisatoris. Konsekuensi yang harus di ambil “kembali ke pelajar” adalah mengembalikan basis organisasi ke sekolah dan pesantren layaknya organisasi di sekolah OSIS misalnya. Dengan dikembalikannya pelajar menjadikan organisasi ini sangat ugen untuk melakukan kaderisasi di kalangan remaja NU yang  terdidik. Kesadaran bahwa pelajar adalah “investasi masa depan” bagi NU (dan bangsa) sangat di perlukan, sementara melihat kenyataan ada bahwa pelajar NU sebagai kekuatan masa depan kini tidak mendapat perhatian yang optimal oleh para pemuka maupun  Nahdlatul Ulama sendiri, terutama dalam hal penanaman nilai, baik nilai moral muapun nilai yang lainnya tak lupa gerakan yang harus di lakukan itu apa saja. Dengan begitu dibutuhkan organisasi yang secara intensif dan aktif untuk menjadi wadah aktualisasi bagi pelajar dan santri NU. Akibat tidak adanya perhatian dan pembinaan yang khusus, tidak sedikit kalangan muda terdidik ini yang mengalami pembelokan ketika mereka telah berada di tengah – tengah jalan. Namun kita harus merealisasikan apa yang telah terencana, kita harus terjun ke sekolah atau pesantren dan melakukan kegiatan – kegiatan yang mampu memikat hati para siswa maupun santri guna proses pendewasaan.  Untuk pendidikan pesantren, karena merupakan pendidikan tertua maka menyimpan potensi terbesar dalam bidang agama. Untuk mengimbangi pendidikan agama maka di butuhkan sesuatu yang wow yakni ilmu umum serta teknologi dengan tanda kutip kita harus menyeleksi terlebih dahulu.

Kedua, Masuk pada konsekuensi yang kedua yakni membangun atau menciptakan gerakan yang berbasis keilmuan. Dari gerakan – gerakan ini yang lebih di tekankan adalah dalam hal penguatan intelektualisme kader.  Istilah pelajar menjadi ikon tersendiri dalam agenda ini, namun perlu dilandaskan pada basis inteletualisme yang tangguh. Yang harus ditekan disini adalah pada peningkatan wawasan dan potensi keilmuan yang dimiliki kader. Sehingga kecenderungan para kader untuk dipolitisasi dan mempolitisasi organisasi akan terbendung oleh orientasi keilmuan ini. Hal ini menjadi makin penting mengingat pendirian IPNU-IPPNU dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk melakukan penguatan keilmuan generasi muda.

Ketiga, sebagai pelajar IPNU dan IPPNU tentu tidak hanya bergerak pada agenda-agenda internal NU. Sehingga mereka juga harus menyadari bahwa mereka sebagai bagian dari gerakan pelajar di Indonesia. Sejak masa kelahirannya IPNU-IPNU memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gerakan kaum terpelajar yang mewarisi tradisi perlawanan terhadap kolonialisme tempo dulu, dalam bentuk apapun. Untuk itulah sudah saatnya IPNU bersama IPPNU membangun strategi gerakan yang ampuh dalam menunaikan amanah kepelajarannya. Salah satu agenda menonjol yang mesti dilakukan adalah advokasi pelajar dan pendidikan.

Secara kultural, advokasi kepelajaran dilakukan dengan melakukan pendampingan terhadap para pelajar dalam menapaki tugasnya sebagai pelajar dan membentenginya dari arus pem belokan ujalan yang dituju. Secara bersamaan pula struktural IPNU juga harus melakukan advokasi pendidikan. Agenda ini harus dilakukan karena meskipun “zaman” telah berubah, masih terlalu banyak kebijakan pendidikan kita yang merugikan dan tidak memihak rakyat kecil, dari biaya pendidikan yang melambung sampai yang belakangan sedang ramai adalah kecurangan dalam UN. Warisan orde baru memang telah berlalu, namun tak membawa berlalu pula hal – hal negatif yang harus di tanggung. Karena itulah berbagai kebijakan yang saat ini sudah tidak populer dan tidak relevan dengan demokratisasi harus dilawan.(di kutip dari:Mewujudkan-ipnu-ippnu-kabupaten-asahan-sebagai-gerakan-pelajar-berbasis-aswaja-iid-102872811.htm (26 februari 2013 09:16).)

Tentu, perjuangan ini dan semua agenda-agenda di atas dilandasi dengan komitmen ideologis yang kuat. Karena itulah penguatan basis ideologi menjadi hal yang tak dapat ditawar kembali. Sebagai bagian integral dari kultur dan struktur NU, segenap gerak langkah dan “ideologi” IPNU-IPPNU harus tetap berada dalam bingkai besar ahl al-sunnah wa al-jama’ah, atau yang kerap disebut dengan “Aswaja”. Aswaja yang mestinya dimaknai dan dibumikan secara lebih pasti pada ranah sosial bukanlah Aswaja yang hanya dimaknai sebagai doktrin dan metode fikir semata. Lebih dari sekadar itu, Aswaja seharusnya dijadikan sebagai motor perubahan. Karena jika Aswaja tetap dimaknai hanya sekadar madzhab yang padat dan statis, maka ia tidak akan mampu mengawal dan membawa perubahan menuju peradaban baru yang semakin menantang. Sehingga dibutuhkan kajian akademik dan konseptual serta pembacaan yang serius untuk membangun Aswaja agar dapat dijadikan sebagaipedoman  ideologis bagi setiap gerakan IPNU-IPPNU. Dengan basis idelogis inilah gerakan pelajar yang dimainkan IPNU dan IPPNU akan lebih paradigmatis.

Dengan demikian bukan hanya menjadi wadah bagi kader organisatoris yang mampu menjalankan fungsi organisasi dalam menjawab tuntutan perubahan tetapi juga bukan pula hanya kader intelektual yang mampu menjawab masalah – masalah keilmuan. Lebih dari sekadar itu, IPNU-IPPNU akan menjadi wadah bagi kader bangsa yang memiliki kekokohan ideologis (Aswaja) untuk melakukan kinerja – kinerja peradaban zaman. Dari sinilah  kemungkinan akan menjadi kenyataan apabila IPNU IPPNU menjadi organisasi gerakan pelajar. Sebab tanpa kekuatan ideologi yang dimilikinya, mustahil sebuah gerakan bisa dilakukan dengan baik.

 

 

Sumber:

  1. Mewujudkan-ipnu-ippnu-kabupaten-asahan-sebagai-gerakan-pelajar-berbasis-aswaja-iid-102872811.htm (26 februari 2013 09:16).
  2. Buku pedoman makesta Anak Cabang Duriwetan Maduran Lamongan
  3. Catatan ketika mengikuti MAKESTA 2009
  4.  Coretan Ahmad Zaini belajar “http://dokteralif.blogspot.com/2011/12/peranan-ipnu-ippnu-bagi-remaja.html”

 

Oleh:  putri andini

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

IPNU IPPNU , GERAKAN PELAJAR BERBASIS KEILMUAN DAN AHLUSSUNAH WALJAMAAH

IPNU IPPNU , GERAKAN PELAJAR BERBASIS KEILIMUAN DAN AHLUSSUNAH WALJAMAAH

Salah Satu badan otonom dari Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki fungsi membantu melaksanakan kebijakan NU pada pelajar baik pelajar putra maupun putri serta santri putra maupun putra yang memiliki nama IPNU IPPNU.

 IPNU-IPPNU yang dimaksudkan disini merupakan suatu organisasi pelajar baik putra maupun putri  Nahdlatul Ulama (NU) yang sejak kelahirannya memang disiapkan sebagai wadah kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU) untuk masa ke depannya. Karena itulah agenda kaderisasi dalam organisasi ini menjadi “titik tempur” utama yang benar – benar memperoleh perhatian khusus dari para pemuka – pemuka NU. Oleh karena itu IPNU-IPPNU masa depan harus dapat melahirkan kader-kader  NU yang tidak hanya tangguh secara intelektual dan memiliki keunggulan akhlaq serta terampil dalam berorganisasi, melainkan juga  harus siap bertempur di medan peradaban yang semakin kompleks. Tak hanya itu para kader NU ini juga harus mampu menancapkan bendera Nahdhatul Ulama di bumi yang suci i yang kian lama kehilangan kader muda yang unggul tangguh dan berakhlakul karimah dengan pedoman  paham Ahlussunah waljamaah.. Untuk merealisasikan apa yang telah menjadi visi dan misi dari IPNU maupun IPPNU tentu hal pertama yang bisa dilakukan adalah memperkuat kelembagaan pada organisasi, melihat kondisi yang tak bisa di pungkiri lagi dimana para pemuda semakin mendekati masa-masa transisi  dalam suatu ranah keorganisasian tidak sedikit konsekuensi yang harus dialami.

Penggantian makna dari huruf “P”yaitu dari pemuda menjadi pelajar tidak hanya berhenti dalam kata pelajar melainkan justru menimbulkan pertanyaan besar “ Apa yang akan dilakukan oleh para pelajar-pelajar yang merupakan kader NU selanjutnya di masa yang akan datang?” untuk menjawab pertanyaan itu ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi rujukan dalam bertindak menjadikan kader investasi masa depan diantaranya:

 Pertama, Para kader itu harus memiliki iktikad dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan pembenahan-pembenahan dalam segi organisatoris. Konsekuensi yang harus di ambil “kembali ke pelajar” adalah mengembalikan basis organisasi ke sekolah dan pesantren layaknya organisasi di sekolah OSIS misalnya. Dengan dikembalikannya pelajar menjadikan organisasi ini sangat ugen untuk melakukan kaderisasi di kalangan remaja NU yang  terdidik. Kesadaran bahwa pelajar adalah “investasi masa depan” bagi NU (dan bangsa) sangat di perlukan, sementara melihat kenyataan ada bahwa pelajar NU sebagai kekuatan masa depan kini tidak mendapat perhatian yang optimal oleh para pemuka maupun  Nahdlatul Ulama sendiri, terutama dalam hal penanaman nilai, baik nilai moral muapun nilai yang lainnya tak lupa gerakan yang harus di lakukan itu apa saja. Dengan begitu dibutuhkan organisasi yang secara intensif dan aktif untuk menjadi wadah aktualisasi bagi pelajar dan santri NU. Akibat tidak adanya perhatian dan pembinaan yang khusus, tidak sedikit kalangan muda terdidik ini yang mengalami pembelokan ketika mereka telah berada di tengah – tengah jalan. Namun kita harus merealisasikan apa yang telah terencana, kita harus terjun ke sekolah atau pesantren dan melakukan kegiatan – kegiatan yang mampu memikat hati para siswa maupun santri guna proses pendewasaan.  Untuk pendidikan pesantren, karena merupakan pendidikan tertua maka menyimpan potensi terbesar dalam bidang agama. Untuk mengimbangi pendidikan agama maka di butuhkan sesuatu yang wow yakni ilmu umum serta teknologi dengan tanda kutip kita harus menyeleksi terlebih dahulu.

Kedua, Masuk pada konsekuensi yang kedua yakni membangun atau menciptakan gerakan yang berbasis keilmuan. Dari gerakan – gerakan ini yang lebih di tekankan adalah dalam hal penguatan intelektualisme kader.  Istilah pelajar menjadi ikon tersendiri dalam agenda ini, namun perlu dilandaskan pada basis inteletualisme yang tangguh. Yang harus ditekan disini adalah pada peningkatan wawasan dan potensi keilmuan yang dimiliki kader. Sehingga kecenderungan para kader untuk dipolitisasi dan mempolitisasi organisasi akan terbendung oleh orientasi keilmuan ini. Hal ini menjadi makin penting mengingat pendirian IPNU-IPPNU dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk melakukan penguatan keilmuan generasi muda.

Ketiga, sebagai pelajar IPNU dan IPPNU tentu tidak hanya bergerak pada agenda-agenda internal NU. Sehingga mereka juga harus menyadari bahwa mereka sebagai bagian dari gerakan pelajar di Indonesia. Sejak masa kelahirannya IPNU-IPNU memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gerakan kaum terpelajar yang mewarisi tradisi perlawanan terhadap kolonialisme tempo dulu, dalam bentuk apapun. Untuk itulah sudah saatnya IPNU bersama IPPNU membangun strategi gerakan yang ampuh dalam menunaikan amanah kepelajarannya. Salah satu agenda menonjol yang mesti dilakukan adalah advokasi pelajar dan pendidikan.

Secara kultural, advokasi kepelajaran dilakukan dengan melakukan pendampingan terhadap para pelajar dalam menapaki tugasnya sebagai pelajar dan membentenginya dari arus pem belokan ujalan yang dituju. Secara bersamaan pula struktural IPNU juga harus melakukan advokasi pendidikan. Agenda ini harus dilakukan karena meskipun “zaman” telah berubah, masih terlalu banyak kebijakan pendidikan kita yang merugikan dan tidak memihak rakyat kecil, dari biaya pendidikan yang melambung sampai yang belakangan sedang ramai adalah kecurangan dalam UN. Warisan orde baru memang telah berlalu, namun tak membawa berlalu pula hal – hal negatif yang harus di tanggung. Karena itulah berbagai kebijakan yang saat ini sudah tidak populer dan tidak relevan dengan demokratisasi harus dilawan.

Tentu, perjuangan ini dan semua agenda-agenda di atas dilandasi dengan komitmen ideologis yang kuat. Karena itulah penguatan basis ideologi menjadi hal yang tak dapat ditawar kembali. Sebagai bagian integral dari kultur dan struktur NU, segenap gerak langkah dan “ideologi” IPNU-IPPNU harus tetap berada dalam bingkai besar ahl al-sunnah wa al-jama’ah, atau yang kerap disebut dengan “Aswaja”. Aswaja yang mestinya dimaknai dan dibumikan secara lebih pasti pada ranah sosial bukanlah Aswaja yang hanya dimaknai sebagai doktrin dan metode fikir semata. Lebih dari sekadar itu, Aswaja seharusnya dijadikan sebagai motor perubahan. Karena jika Aswaja tetap dimaknai hanya sekadar madzhab yang padat dan statis, maka ia tidak akan mampu mengawal dan membawa perubahan menuju peradaban baru yang semakin menantang. Sehingga dibutuhkan kajian akademik dan konseptual serta pembacaan yang serius untuk membangun Aswaja agar dapat dijadikan sebagaipedoman  ideologis bagi setiap gerakan IPNU-IPPNU. Dengan basis idelogis inilah gerakan pelajar yang dimainkan IPNU dan IPPNU akan lebih paradigmatis.

Dengan demikian bukan hanya menjadi wadah bagi kader organisatoris yang mampu menjalankan fungsi organisasi dalam menjawab tuntutan perubahan tetapi juga bukan pula hanya kader intelektual yang mampu menjawab masalah – masalah keilmuan. Lebih dari sekadar itu, IPNU-IPPNU akan menjadi wadah bagi kader bangsa yang memiliki kekokohan ideologis (Aswaja) untuk melakukan kinerja – kinerja peradaban zaman. Dari sinilah  kemungkinan akan menjadi kenyataan apabila IPNU IPPNU menjadi organisasi gerakan pelajar. Sebab tanpa kekuatan ideologi yang dimilikinya, mustahil sebuah gerakan bisa dilakukan dengan baik.

Sumber:

  1. Mewujudkan-ipnu-ippnu-kabupaten-asahan-sebagai-gerakan-pelajar-berbasis-aswaja-iid-102872811.htm (26 februari 2013 09:16).
  2. Buku pedoman makesta Anak Cabang Duriwetan Maduran Lamongan
  3. Catatan ketika mengikuti MAKESTA 2009
  4.  Coretan Ahmad Zaini belajar “http://dokteralif.blogspot.com/2011/12/peranan-ipnu-ippnu-bagi-remaja.html”

Oleh:  putri andini

.

IPPNU dari Masa ke masa

1. Rekanita Bibit 2002-2004
2.Rekanita Lutfiah 2004-2005
3.Rekanita Anik Yuhana 2005-2006
4. Rekanita Lina Lufita (Lina Al Abqary) 2006-2007
5. Rekanita Nur Fajriah HAnum (Nur Fajriah Hanum) 2007-2008
6. Rekanita Dewi Zuhroyda 2008-2009
7. Rekanita Zidni Karimatal M (Zidni Mungkin) 2009-2010
8. Rekanita Ayulubna ZulfA (Ayulubna Zulfa) 2010-2011
9. Rekanita Faizah Nurhasanah (Faizah Khan) 2011-2012
10. Rekanita Nur RakhmAh Fitriyah ( Nur Rakhmah Fitriyah) 2012-2013

IPNU dari tahun ke tahun

Siapa sangka bahwa IPNU Unesa sudah berusia 11 tahun. Usia yang tidak lagi mudah, kalau kita ambil istilah fiqih ipnu sudah aqil Bligh. Usia yang sudah bisa membedakan baik dan buruk (mukallaf). Usia yang sudah pernah mimpi basah (iktilam). Usia ini membuat IPNU semakin dewasa.

Tentu dengan usia yang tidak muda alias sudah gede, IPNU Unesa akan mengalami lebih banyak masalah. Kedewasaan akan tumbuh apabila masalah yang ada dihadapi dengan mengambil makna, mengambil khikmah. Sehingga perlunya evaluasi adalah mengambil makna. Ketika masalah kaderisasi terjadi, maknanya apa? sehingga dengan makna tersebut menjadi pegangan ketika terjadi masalah kaderisasi terjadi lagi. Mengambil makna disini bukan hanya untuk memaknai dengan kata-kata (emang mau menjenggoti kitab kuning harus dimaknai hahaha) tetapi memaknai disini berpikir bagaimana menyelesaikan masalah tersebut istilah kerennya proble solving. Kemudian ditulis sebagai dokumen penyelesaian masalah sehingga ketika terjadi lagi masalah tersebut tidak Mbulet saja.

 

Semakin dewasa itu semakin kuat, semakin kokoh (tak tertandingi semen kali), tulang tidak rawan lagi (istilah biologi) sudah menjadi keras.Tetapi awas tulang keras itu gampang patah. Sehinga fleksibilitas sangat diutamakan, fleksibel bukan berarti mlempem, tidak tegas, tetapi merangkul semua, tidak otot-ototan, mencari jalan tengah (tawazun), menjaga kebersamaan. Jika kokoh dan tak gampang patah kayak besi tapi besi lunak.

 

Semoga Ipnu dari tahun-ketahun semakin berkibar dan berjawa, Allahumma towil umuro IPNU-IPPNU Unesa, Towil bi kastirotil barokah, wa manfaa’h… Alfaatihah…

ACARA RTL (RENCANA TINDAK LANJUT) PROGRAM KERJA IPNU-IPPNU 2012/2013

Akan diadakan RTL (Rencana Tindak Lanjut) Program Kerja IPNU IPPNU Periode 2012/2013

Hari/tgl : minggu, 09 desember 2012
waktu 08.00 – sampai selesai
Tempat : musholah AL-IKHLAS FIS UNESA

 

 

Rekan dan rekanita dimohon kedatanganya demi kesuksesan acara kedepan

 

BELAJAR, BERJUANG, BERTAQWA

`